April 16, 2013

MIMPI ITU DEKAT


Fred Douglas benar-benar memulai hidupnya tanpa apa-apa, bahkan dirinya bukan lagi miliknya pada saat masih dalam kandungan ibunya. Sebagai anak budak belian, ia sudah dijadikan jaminan untuk melunasi hutang majikan orang tuanya. Ia jarang bertemu ibunya kecuali pada malam hari di mana ibunya harus berjalan sejauah dua belas kilometer hanya untuk bertemua anaknya selama satu jam.

Ia tidak mempunyai kesempatan belajar, karena pada zaman itu pada budak belian tidak diperbolehkan belajar menulis dan membaca. Namun tanpa diketahui siapapun, ia belajar membaca dan menulis. Dalam waktu singkat, ia sudah membuat malu teman-temannya yang berkulit putih dalam hal pelajaran karena prestasinya.

Pada usia 21 tahun ia melarikan diri dari perbudakan dan bekerja sebagai seorang pesuruh di New York dan New Bedford. Di Nantucket, ia berpidato, mendesak dihapuskannya perbudakan. Kesan yang ditimbulkannya sedemikian baik sehingga ia diangkat menjadi agen Lembaga Anti Perbudakan di Massachussetts.

Sementara ia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk memberikan ceramah, ia tetap belajar. Ia kemudian dikirim ke Eropa untuk berpidato dan menjalin persahabatan dengan beberapa orang Inggris yang kemudian memberinya 750 dolar untuk menebus kebebasannya sebagai seorang budak. Ia menerbitkan surat kabar di Rochester dan kemudian mempimpin New Era di Washington Bertahun-tahun lamanya ia menjadi kepala daerah Columbia dan bisa menandingi setiap kulit putih manapun.

Apakah ada di antara kita yang kondisinya lebih buruk dari Fred Douglas? Setidaknya tidak satupun dari kita yang pernah menjadi budak. Sesungguhnya, kita memiliki lebih banyak hal untuk disyukuri dan dijadikan sebagai modal untuk mencapai masa depan yang kita impi-impikan. Kita hanya perlu berusaha tanpa henti dan selalu mengingat serta menyertakan Tuhan dalam setiap rencana kita. Seperti halnya Fred Douglas, kita harus dapat memanfaatkan kekuatan dan kesempatan yang datang, juga berusaha mengatasi kelemahan dan ancaman yang menghadang. Dengan mengandalkan Tuhan, kita yakin bahwa harapan dan cita-cita kita sebenarnya sudah di tangan.

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © Renungan Harian Maranatha Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger