April 01, 2013

PALING BERHARGA


The Book of Eli...

Adalah suatu masa, beberapa puluh tahun setelah perang dunia dan masa "jatuhnya matahari" (yang diperkirakan sebagai hujan meteor) yang menghancurleburkan bumi. Masa itu sangatlah sulit, air susah didapat, makanan pun sulit diperoleh. Hal ini akhirnya memaksa manusia untuk berbuat jahat, menyakiti orang lain, asalkan mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan (termasuk membunuh dan memakan manusia lainnya.

Di masa ini hiduplah seorang pria bernama Eli yang bertahan hidup beberapa puluh tahun dari perang dan bencana alam mengerikan itu. Di masa ini juga, Alkitab hampir saja punah; entah itu dibakar atau dihancurkan pada waktu perang terjadi - hanya Eli yang masih menyimpan satu-satunya Alkitab yang mungkin masih tersisa di muka bumi. Dan sejak menemukan Alkitab itu, ia membacanya setiap hari, tak pernah terlewat. Alkitab itu pun menjadi teman hidupnya, pengharapan baginya, kekuatan jiwa dan raganya, segalanya untuknya.

Menurutnya, ada sebuah suara yang menuntunnya untuk menemukan Alkitab itu di antara puing-puing, dan yang memintanya untuk mengantarkan Alkitab itu ke tempat teraman di bumi, yaitu di barat. Ia berjalan selama bertahun-tahun menuju ke barat, menghadapi begitu banyak orang yang ingin berbuat jahat kepadanya, termasuk merebut Alkitab miliknya. Namun seolah seperti dilindungi dan tidak tersentuh, Eli selalu berhasil selamat dari berbagai niatan jahat itu.

Sampai satu saat, ia terluka parah, dan Alkitab itu berhasil direbut dari tangannya. Tapi hal itu tidak meruntuhkan niatnya untuk pergi ke daerah barat. Untungnya seorang gadis muda mau membantunya, mengantarkannya ke tempat yang dimaksudkannya. Ternyata, tempat itu tidak lain adalah sebuah kapal di tengah laut, yang khusus menyimpan buku-buku yang nyaris musnah karena perang, dan yang akan mencetak buku-buku itu lagi.

Berbekal kekuatan yang masih tersisa, Eli meminta seorang anggota penerbitan di kapal itu untuk menuliskan Alkitab yang dibacanya setiap hari itu hingga ia hapal di luar kepala. Dan baru setelah Alkitab itu selesai ditulis ulang, ia meninggal.

Note:
Alkitab telah menuliskan masa ketika manusia sulit sekali mendengar, bahkan membaca Injil. Kita belum bisa melihat dan mengalami sendiri masa itu, karena kita sekarang kebanyakan masih dibebaskan untuk memiliki, membaca, dan menyelidiki Alkitab. Tetapi apabila masa itu sungguh datang, apakah kita akan sehaus Eli? Apakah kita akan menjadikan firman yang pernah kita terima sebagai kekuatan dan pengharapan hidup kita, bahkan sampai kita mati?

Hal apa yang paling berharga dalam hidup kita? Hal itulah yang akan kita jaga mati-matian. Alangkah berbahagianya mereka yang menganggap bahwa firman Tuhan adalah sesuatu yang paling berharga, karena ia pasti akan hidup karenanya. Dari firman, kita mendapatkan segala yang kita butuhkan, dan lebih dari segalanya, kita mendapatkan isi hatinya Tuhan.

Tuhan ingin kita menyimpan firman dalam hidup kita. Tidak hanya itu saja, Ia ingin kita mengamalkan dan membagikannya kepada mereka yang belum pernah mendengarnya. Itulah makna dan pentingnya firman; tidak untuk disimpan sendiri saja.

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © Renungan Harian Maranatha Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger