January 22, 2013

MANUSIA FANA



Kemarin teman saya menjadi saksi mata dari sebuah kecelakaan tragis yang pada akhirnya menewaskan seorang pengendara sepeda motor. Tidak jauh dari tempat teman saya seringkali mengisi bensin sepeda motornya, tepatnya di daerah Brantas, Malang, ia melihat dua truk bermuatan saling bertubrukan. Menurut apa yang dilihatnya, tubrukan itu cukup pelan, namun memaksa salah satu truk mundur ke belakang, dan mengakibatkan truk lainnya (seperti sedang menghindari pengendara jalan lain) membanting setir dan kemudian, terguling. Ia sempat melihat ada sepeda motor yang terlempar, dan momen ketika supir truk yang terguling itu keluar melalui jendela truk, namun ia tidak menyangka bahwa di bawah truk itu, seseorang tergencet badannya dan kehilangan nyawanya.

Mendengar ceritanya saja saya ikut merinding. Nampak jelas di wajah teman saya bahwa kecelakaan itu sungguh mengerikan. Bagaimana tidak...? Itu terjadi di depan matanya.

Kejadian ini membuat saya, dan mungkin Anda juga, berpikir... betapa fananya kehidupan kita manusia, betapa “final destination” (tujuan terakhir) itu sungguh nyata. Nyawa seseorang bisa dengan mudah hilang, dengan bermacam cara, tidak peduli apakah dia tua, muda, kaya, miskin. Orang yang berkendara baik-baik dan tidak melanggar aturan lalu lintas bisa jadi korban. Orang yang berjalan kaki di trotoar juga bisa jadi korban. Orang yang bahkan sedang duduk-duduk di dalam rumahnya juga bisa jadi korban. Pada akhirnya, semua orang akan kembali kepada sang Pencipta dengan cara yang tidak dapat kita duga.

Sempat dalam hati saya berkata, “Tuhan, kalau boleh, izinkan aku meninggal dengan cara yang layak, dengan tenang, dengan damai. Kalau bisa ndak pake kecelakaan atau sakit yang gimana gitu.” He he... konyol ya? Siapa yang dapat menentukan cara ia meninggal? Tidak ada! Semua atas kehendak Tuhan, dan kita tidak akan pernah dapat melawan kehendak-Nya.

Kita hanya bisa berserah kepada Tuhan. Berdoa supaya Ia memberkati dan melindungi perjalanan dan aktivitas kita, dan menjadi pengguna jalan yang baik serta menaati aturan... hanya itu yang bisa kita lakukan. Sisanya, terserah Tuhan. Saya tetap percaya bahwa rancangan Tuhan itu baik dan tidak bercela. Kita hanya harus mempercayainya.

Tuhan Yesus, terima kasih untuk hari yang Kau beri. Aku menyerahkan kepada-Mu segala yang akan terjadi dalam hari-hariku. Aku berdoa kiranya Engkau melindungi dan memberkati perjalanan serta aktivitasku. Dalam nama Tuhan Yesus, Allah atas hidupku, Amin.

Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, ...
Mzm. 37:5a

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © Renungan Harian Maranatha Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger