January 30, 2013

TULISKAN MIMPIMU



Sudah beberapa tahun ini gereja kami mengajar dan mengajak jemaatnya untuk menuliskan apa yang menjadi mimpi atau cita-cita mereka (berdasarkan Habakuk 2:2). Kami diajak untuk hidup dengan mimpi, cita-cita, pergumulan, dan doa, lalu menuliskannya di tempat yang terlihat bagi kami atau mudah untuk kami temukan. Awalnya kebanyakan dari kami belum terbiasa melakukannya, namun setelah melakukannya sendiri, saya melihat Tuhan bekerja.

Saya masih ingat ketika saya menulis di lembar tahunan bahwa saya ingin ojt di sebuah penerbitan di kota saya. Dalam hati saya hanya berdoa agar saya bisa magang di tempat di mana ilmu yang saya pelajari selama kuliah dapat dipraktekkan, bahkan sangat dibutuhkan.

Enam bulan kemudian, ketika seluruh mahasiswa tingkat akhir harus menemukan tempat ojt, saya memutuskan untuk pergi ke penerbitan tersebut. Sekalipun mereka belum pernah menerima mahasiswa magang, tapi kemudian mereka mengizinkan saya untuk melakukan ojt di sana.

Selama ojt, saya mendapatkan tugas-tugas yang sangat sesuai dengan ilmu saya. Saya merasa tidak bekerja, melainkan mendalami ilmu layaknya di kampus. Saya juga merasa betah, buktinya, di saat teman-teman yang lain ingin segera mengkhiri masa ojt, saya justru memperlama masa ojt saya.

Saya juga sangat bersyukur karena setelah ojt, saya ditawari untuk bekerja di sana. Sampai sekarang saya masih bekerja di sana, dengan tugas-tugas yang semakin memperdalam dan mengasah ilmu yang saya tekuni.

Di luar kesaksian ini, saya juga mengalami kesaksian-kesaksian lain setelah menuliskan doa-doa saya. Puji Tuhan, Tuhan itu sungguh luar biasa.
Mungkin ada yang berkomentar, “Kalau begitu, saya bisa menuliskan apapun yang saya mau dong?” Untuk hal ini, kita tetap harus bertanya kepada Tuhan, apakah yang kita mau juga yang Tuhan mau? Kami diajar untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan, memiliki impian yang realistis, menuliskan mimpi yang sejalan dengan kehendak Tuhan. Saya percaya, ketika kita melakukannya, tulisan-tulisan itu akan menjadi kenyataan.

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © Renungan Harian Maranatha Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger