February 04, 2013

BERKAT ATAU BENCANA?



Setiap kali saya gajian, inilah ritual yang akan saya lakukan. Saya akan mengapit uang itu di antara kedua tangan saya, menutup mata, dan kemudian berdoa, “Tuhan, terima kasih untuk gajiku bulan ini. Tolong berkati uang ini. Berikan hamba kemampuan untuk mengelolanya dengan baik agar uang ini cukup untuk kami dan jadi berkat buat kami.”

Untuk sebagian orang, termasuk saya, uang adalah sesuatu yang perlu, bahkan wajib untuk diserahkan kepada Tuhan. Kenapa? Karena tanpa hikmat Tuhan, seseorang tidak akan dapat mengelola uang yang dimilikinya dengan baik dan benar.

Kata orang, “Uang adalah hamba yang baik, tetapi ia juga tuan yang sangat jahat.” Jika kita bijak dan tahu apa yang menjadi kebutuhan kita, prioritas kita, kita akan memiliki kesanggupan untuk “menundukkan” uang. Kita tidak akan jajan berlebihan, tidak akan shopping berlebihan, dan uang yang mengalir keluar akan bermuara di tempat/pos kebutuhan yang benar. Akan tetapi, jika kita lebih menuruti keinginan, lebih dari pada kebutuhan, maka kita akan kehilangan kontrol atas uang. Selalu saja ada barang yang sebenarnya tidak perlu, tapi tetap kita beli; yang kita butuhkan malah tidak terbeli. Kita ikut-ikutan gaya hidup “lebih” dari teman atau kelompok yang pendapatannya lebih besar dari kita. Alhasil, besar pasak dari pada tiang, besar hutang dari pada piutang!

Saya salut dengan beberapa anak yang saya layani. Mereka masih SD, tapi mereka sudah mengerti bagaimana cara mengatur uang yang baik. Setiap kali kami mengadakan acara keluar, kami akan mengumumkannya beberapa minggu atau bulan kepada anak-anak. Nah, beberapa dari mereka akan menabung dengan menyisihkan sebagian atau seluruh uang jajan mereka agar di hari H-nya mereka bisa jajan tapi tidak perlu meminta uang saku lagi kepada orang tua. Mereka juga akan menabung keras demi mendapatkan barang yang mereka butuhkan, seperti tas sekolah, sepatu sekolah, baju, dll. Mereka adalah teladan-teladan kecil bagi saya yang seringkali pemikirannya “lebih kecil” dari usia mereka.

Firman Tuhan menuliskan, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Tuhan ingin agar kita menaruh hati kita dengan cara yang benar. Tuhan ingin agar kita tidak dikuasai oleh keinginan daging dan harta duniawi. Karena itulah Dia juga mengajar kita untuk memberi persembahan “yang terbaik”, karena dengan demikian, kita juga sementara mengumpulkan harta sorgawi, dan otomatis, hati kita juga ada bersama “harta sorgawi” kita.

Mari kita belajar menyerahkan uang kita kepada Tuhan, agar uang itu menjadi berkat, dan bukan menjadi bencana.

Tuhan, berkatilah setiap sen uang yang Engkau percayakan kepadaku. Berikan aku hikmat untuk mengelola uang itu, agar jadi berkat buatku, sesamaku, terlebih Engkau. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
Ibr. 13:5

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © Renungan Harian Maranatha Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger