February 07, 2013

PULANG KE RUMAH



Jika ada seseorang bertanya kepada Anda, “Apa yang terjadi setelah Anda meninggal dunia?”, maka apa jawaban Anda?

Pertanyaan yang sama diajukan kepada sekelompok anak kelas 6 SD yang tengah membahas rencana masa depan mereka. Karena di awal mereka sudah diwanti-wanti untuk memberi jawaban yang jujur, sesuai dengan apa yang mereka ketahui, di mana tidak akan ada yang menyalahkan atau memarahi mereka atas jawaban yang diberikan, merekapun memberikan jawaban yang bervariasi. Dari beberapa di antaranya, saya menemukan beberapa jawaban yang mengundang tawa, seperti: “Menjadi arwah gantayangan”, “ya langsung dikubur”, “rohnya berkeliling dunia sampai tiba waktunya masuk sorga”, juga (beberapa jawaban) “tidak tahu”.

Kehidupan setelah kematian memang menjadi teka-teki bagi kita, karena kita belum melihat sendiri apa yang terjadi di sana sebenarnya. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak akan mempersiapkan diri untuknya, karena bagi kita yang percaya, sorga sementara menanti kita.

Alkitab menggambarkan dunia kita yang sekarang sebagai “kemah” dan sorga sebagai “rumah” (2 Kor. 5:1). Untuk memastikannya, kita perlu bertanya, “Apakah “kemah” bisa menjadi “rumah”? jawabannya, tentu saja tidak. Seberapapun bagusnya kemah, tempat tinggal permanen kita adalah rumah. Di manapun kita membangun kemah, satu saat kita tetap akan kembali ke rumah. Kesimpulannya, “kemah” bukanlah, dan tidak akan pernah menjadi “rumah” kita.

Sorga sedang menanti kita untuk pulang, kita hanya harus percaya bahwa Allah sudah menyediakannya bagi kita. Kita juga harus melakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita di dunia, sebagai panggilan Allah kepada kita dari sorga. Jadi, sekarang, mari kita mempersiapkan diri untuk bisa “pulang ke rumah”.

Bapa, aku tidak dapat melihat sorga, namun aku ingin masa depanku ada bersama-Mu di sorga. Ajar aku untuk percaya, sekalipun sekarang aku belum dapat melihatnya, dan bantu aku untuk membagikan kepada orang-orang di sekitarku, kepada dunia, bahwa Kau juga ingin mereka mempersiapkan diri untuk kekekalan bersama-Mu di sorga. Terima kasih, Bapa, untuk pengharapan akan sorga. Amin

Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”
Why. 14:13

0 komentar:

Post a Comment

 

Copyright © Renungan Harian Maranatha Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger