February 13, 2013

GESER DONG




Satu pagi, Tia menunggu mikrolet (istilah untuk mobil angkutan umum dalam kota), hendak pergi ke tempat kerja. Tidak lama kemudian, sebuah mikrolet tujuannya muncul dari kejauhan. Menurut perhatiannya, mobil itu tidaklah penuh dengan penumpang, jadi ia akan dapat dengan leluasa mencari tempat duduk dan dapat duduk dengan cukup nyaman.

Ketika mobil itu berhenti di depannya, Tia melihat beberapa orang dewasa sudah ada di sana. Posisi duduk mereka duduk tidaklah merapat, masih ada sela, tapi sela itu tidak cukup jika untuk ditempati oleh seorang penumpang, dan karenanya mobil itu terlihat lebih penuh dari perkiraannya sebelumnya. Dan ketika ia berusaha untuk mencari tempat duduk, tidak ada satupun dari para penumpang ini yang memberikan pandangan bersahabat, memberi ruang, atau setidaknya bergeser sedikit untuk menunjukkan niat baik ataupun kesopanan. Sampai akhirnya Tiapun berkata, “Permisi...”

Tia hanya bisa menahan perasaannya ketika para penumpang itu bergeser dengan enggan. “Sabar sajalah,” pikirnya. Sampai seorang anak sekolah, (anak SMP, terlihat dari seragamnya) ikut naik dan duduk di samping Tia (karena hanya Tia yang dengan ramah memberikan tempat duduk di sebelahnya.

Tidak lama kemudian, ada seorang penumpang lagi yang menyetop, hendak naik angkutan itu. Ketika Tia melihat bahwa yang akan naik adalah seorang ibu yang sudah berumur, ia mengambil ancang-ancang untuk mengalah dan memberikan tempat duduknya. Tapi belum sempat menawarkan tempat, anak SMP tadi sudah lebih dahulu mengambil tindakan dan memberikan tempatnya untuk ibu itu.

Tia hanya bisa tertegun dan sesekali memandangi anak SMP itu. Ia bersyukur bahwa ada orang, lebih tepatnya anak muda, yang tahu untuk melakukan apa yang baik. Dan dari anak muda ini, Tia belajar apa artinya hidup untuk menjadi berkat.

Note:
Kita dapat belajar tentang kehidupan dari situasi macam apapun dan dari siapapun. Tidak peduli apakah itu sesuatu yang menyenangkan, situasi yang tidak mengenakkan, orang yang lebih muda atau lebih tidak punya dari kita, kita tetap dapat belajar sesuatu dari mereka; belajar untuk lebih bijak, belajar untuk lebih berhikmat, belajar untuk lebih mengasihi, dan masih banyak lagi. Kita tidak perlu merasa gengsi, dari apa atau siapa kita belajar semua itu, karena jangan-jangan semua kejadian dan orang dalam hidup kita dikirim Allah untuk memberi pelajaran kepada kita, pelajaran tentang kehidupan.

1 komentar:

 

Copyright © Renungan Harian Maranatha Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger