February 07, 2013

KEBERHASILAN SEJATI



Siapa orang yang Anda anggap berhasil di dunia dan sangat Anda kagumi? Apakah Lionel Messi, Mariah Carey, Donald Trump, Mark Zuckerberg, atau Barack Obama? Dan, kenapa Anda mengkategorikan mereka sebagai orang yang berhasil? Apakah karena mereka sangat kaya, sangat terkenal, sangat berpengaruh dengan kedudukan yang tinggi, sangat ahli dalam bidang yang mereka tekuni? Jawaban mungkin berbeda-beda, namun pada umumya, inilah jawaban yang diberikan oleh dunia tentang definisi kesuksesan.

Ketika kita melihat kehidupan Yesus, Paulus, dan Yusuf, kita akan mendapati jenis kesuksesan yang berbeda. Yesus mungkin dianggap seorang penghujat, Paulus mungkin dianggap seorang pengkhianat, dan Yusuf mungkin dianggap seorang pemimpi kecil, akan tetapi, mereka adalah para pembuat sejarah yang sebenarnya di hadapan Allah.

Yesus, taat kepada Bapa dan bersedia mati bagi orang berdosa, seperti yang telah diminta Bapa dari pada-Nya. Paulus, telah mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan warta Injil dan mempertahankan iman, layaknya seorang pelari yang berhasil mencapai garis akhir. Sedangkan Yusuf, dalam usianya yang masih muda, tidak membiarkan dirinya tunduk pada rayuan istri tuannya, dan yang dikenal takut akan Allah sehingga Allah begitu mengasihinya.

Jadi, setelah kita mendapati makna kesuksesan menurut dunia dan menurut Allah, manakah yang akan kita pilih?

Allah tidak melarang umatnya untuk memiliki kekayaan berlimpah, terkenal, berpangkat, jenius, sangat ahli di bidangnya. Ia justru akan sangat senang jika keadaan-keadaan tersebut kita manfaatkan untuk memuliakan nama-Nya. Yang salah adalah, ketika dalam keadaan sukses (ala dunia), kita melupakan apa yang sebenarnya dicari dan dilihat Allah, yaitu sukses dalam hal HATI. Allah ingin kita rendah hati, mengasihi-Nya sepenuh hati, taat pada perintah-Nya sampai mati, takut dan tunduk kepada-Nya setengah mati ... Dia ingin kita sukses secara rohani.

Bapa di sorga, berikanlah kepadaku hati yang takut akan Engkau. Aku memang ingin sukses di hadapan manusia, tapi aku terlebih ingin sukses di hadapan-Mu. Bapa, bentuklah hatiku seperti yang Kau ingini. Amin.

Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;
manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.
1 Sam. 16:7

1 komentar:

 

Copyright © Renungan Harian Maranatha Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger